Pengikut

Minggu, 24 September 2023

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL. 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN OLEH SUNTUSIA, S.Pd SMA NEGERI 1 TENGGARANG BONDOWOSO CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 8 KAB. BONDOWOSO

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL. 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

 

OLEH

SUNTUSIA, S.Pd

SMA NEGERI 1 TENGGARANG BONDOWOSO

CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 8 KAB. BONDOWOSO

 

 

 

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

 

 

Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?

Pada kutipan diatas ada keterkaitan materi yang saya pelajari pada modul 3.1 ini yaitu tersirat makna bahwa segala sesuatu yang dipelajari harus menanamkan nilai-nilai utama yang paling mendasar. Pada pembelajaran modul pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin hal yang mendasari semuanya adalah etika, hal ini dikarenakan etika akan menjadi dasar pengambilan keputusan yang bersumber pada nilai-nilai kebajikan universal. Selain itu ada hal dasar lainnya yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan yaitu berpihak pada murid dan harus bertanggung jawab.

 

 

Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

 

Ada 3 prinsip yang dianut dalam pengambilan keputusan yaitu berpikir berbasis akhir, berpikir berbasis peraturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Dimana penggunaan ketiga prinsip tersebut menyesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang dihadapi. Apapun prinsip yang digunakan semuanya berdasar / bersumber pada nilai-nilai kebajikan universal. Apabila pengambilan keputusan yang telah kita terapkan telah menggunakan prinsip dan nilai yang sesuai maka keputusan yang kita ambil akan memiliki dampak yang positif di lingkungan sekitar.

 

Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

 

Sebagai pemimpin pebelajaran, pastinya kita dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan di kelas saat proses pembelajaran. Dalam menghadapi berbagai karakterisitik di kelas, kita dituntut lebih peka dalam menganalisis permasalahan yang terjadi. Serta dalam pengambilan keputusan haruslah tetap menggunakan 3 dasar utama yakni keputusan yang diambil harus bersumber pada nilai-nilai kebajikan, berpihak pada murid dan bertanggung jawab. Sejatinya secara tidak langsung, seorang guru dalam pengambilan keputusan tersebut akan menjadi role model dan teladan bagi anak didiknya. Yakni menjadi teladan dalam tata cara pengambilan keputusan yang tepat dalam suatu permasalahan.

 

 

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Seorang yang memiliki pendidikan akan memiliki etika yang yang lebih baik lagi, apapun keputusan yang akan diambil maka akan selalu bersumber pada etika, dimana etika merupakan nilai-nilai kebajikan yang bersifat universal.

 

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

 

Sebagaimana kita ketahui bersama Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara terdiri atas tiga semboyan yakni Ing ngarso Sung tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani . “Ing Ngarso Sung Tulodo” berarti bahwa di depan dapat memberikan teladan yang baik bagi murid-murid, rekan sejawat, maupun anggota masyarakat. Oleh karena itu dalam mengambil suatu keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, guru harus terlebih dahulu menganalisis dan mempertimbangkan matang-matang. Karena segala keputusan yang diambil akan menjadi contoh bagi murid, rekan sejawat, dan anggota masyarakat. “Ing Madyo Mangun Karso” artinya ditengah dapat membangun keinginan, semangat, mimpi maupun cita-cita. Oleh karena itu guru harus mampu mengambil keputusan-keputusan yang berpihak kepada murid dan dapat membangkitkan karsa, semangat, dan kemampuan murid-muridnya. “Tut Wuri Handayani” artinya di belakang dapat memberikan dorongan kinerja pada murid agar dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Hal ini berarti bahwa guru harus mampu mengambil keputusan terkait proses pembelajaran dan kegiatan sekolah yang dapat mendorong kinerja murid agar dapat berkembang sesuai dengan minat, profil, dan kesiapan belajarnya.

 

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 

nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang guru sangatlah berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang diambilnya dalam suatu pengambilan keputusan. Ada tiga prinsip pengambilan keputusan, yang pertama adalah “Rules - Base Thinking” atau pemikiran berbasis peraturan yang kedua “End - Base Thinking” atau pemikiran berbasis hasil akhir dan yang ketiga adalah “Care - Base Thinking” atau pemikiran berbasis rasa Peduli.  “Rules - Base Thinking” biasanya diambil oleh orang-orang yang mengedepankan intuisi kejujuran aturan atau suatu prinsip yang mendalam. “End - Base Thinking” biasanya diambil oleh orang-orang yang mengutamakan nilai-nilai agama, penghargaan akan kehidupan, masa depan, dan kepentingan orang banyak. Sementara “Care - Base Thinking” biasa diambil oleh orang-orang yang mengutamakan rasa kasih sayang, cinta, toleransi, kesetiaan, dan empati.

 

Bagaimana kegiatan terbimbing yang dilakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah diambil?”Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut?

 

Pembimbingan dengan kegiatan coaching yang dilakukan bersama pendamping pengajar praktik dan Ibu fasilitator sangat membantu saya dalam berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan yang telah saya ambil tersebut sudah berpihak kepada murid, apakah sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal, dan dapat saya pertanggungjawabkan.  Dalam penerapannya kegiatan penambilan keputusan yang telah saya lakukan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

 

sebagai seorang pendidik, seorang guru harus peka atau memiliki kemampuan melihat dan memahami kebutuhan belajar murid serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills). Diharapkan proses pengambilan keputusan tersebut dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan, konsekuensi yang akan terjadi, dan meminimalisir kesalahan dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil. Hal ini dikarenakan tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Namun tujuan utama pengambilan keputusan yaitu selalu pada kepentingan dan keberpihakan pada murid .

 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

 

Seorang pendidik yang telah memiliki nilai-nilai guru penggerak (mandiri, inovatif, kolaboratif, reflektif, dan berpihak kepada murid) diharapkan akan mampu mengambil suatu  keputusan yang juga berpihak pada murid yang sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal  dan dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi jika seorang guru belum memiliki nilai-nilai seorang guru penggerak, atau telah kehilangan idealismenya sebagai seorang guru, maka keputusan yang diambil akan cenderung mengutamakan kepentingan pribadi atau golongan, seringkali berorientasi pada materi dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. 

 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat yang tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman?

 

Suatu pengambilan keputusan yang baik dan tepat haruslah dilakukan secara bertahap dan menggunakan analisis yang tepat serta menggunakan 3 elemen dasar pengambilan keputusan yaitu berdasar nilai-nilai kebajikan universal, berpihak pada murid dan dapat dipertanggungjawabkan. Ada 9 langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk pengambilan dan pengujian keputusan. Pertama, mengenali terlebih dahulu nilai-nilai yang saling bertentangan terhadap kasus yang dihadapi. Kedua, menentukan pihak-pihak yang terlibat dalam kasus tersebut. Ketiga, mengumpulkan fakta-fakta secara lengkap dan detail. Keempat, melakukan pengujian benar atau salah terhadap kasus. Bermula dari uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, hingga uji panutan/idola. Kelima, melakukan pengujian paradigma benar lawan benar. Apakah kasus tersebut adalah situasi dengan paradigma individu melawan masyarakat, rasa keadilan melawan rasa kasihan, kebenaran melawan kesetiaan, atau jangka pendek melawan jangka panjang. Kemudian yang keenam, melakukan prinsip resolusi. Kita harus melihat misi pengambilan keputusan yang paling tepat, apakah Rules - Base Thinking , End - Base Thinking , ataukah Care - Base Thinking. Ketujuh, mencoba mencari atau menginvestigasi opsi trilemma. Kedelapan, membuat keputusan. Kesembilan,  melakukan refleksi dan mengambil pelajaran dari suatu keputusan yang telah diambil.

 

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

 

Jawaban saya adalah ya. Tantangan muncul karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Hal ini ada kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan sekolah saya. Beberapa hal tersebut misalnya :sistem yang kadang kala memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid. Kedua tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan bersama. Ketiga keputusan yang diambil kadang kala tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan keputusan.

 

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

 

Pengaruh pengambilan keputusan terhadap memerdekan murid tergantung kepada keputusan seperti apa yang diambil. Apabila keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, dalam hal ini tentang metode, media dan sistem penilaian yang dilakukan oleh guru sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar. Sehingga akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Namun sebaliknya apabila keputusan tersebut tidak berpihak kepada murid, maka kemerdekaan belajar murid hanya sebuah omong kosong belaka dan tentunya murid tidak akan dapat berkembang sesuai potensi dan kondratnya.

 

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

 

Keputusan yang diambil oleh seorang guru dapat mempengaruhi kehidupan murid di masa depan. Yakni apabila keputusan guru yang diambil tepat dan bijaksana maka akan  membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan datang. Demikian sebaliknya, apabila keputusan tersebut tidak diambil dengan bijaksana maka bisa jadi berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar, dan kesiapan belajar murid. Untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu menggunakan strategi diferensiasi konten, proses, dan produk.

 

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

 

Kesimpulan akhir yang dapat saya ambil pada modul ini yaitu mengutip kata-kata dari Bob Talbert “MENGAJARKAN ANAK MENGHITUNG ITU BAIK, NAMUN MENGAJARKAN MEREKA APA YANG BERHARGA ATAU UTAMA ADALAH YANG TERBAIK.” Menurut pendapat saya ini berarti bahwa kewajiban seorang guru bukan hanya mengajarkan pengetahuan semata yang terpenting adalah bagaimana membantu murid untuk menyadari mengapa suatu pengetahuan itu penting bagi mereka serta bagaimana mereka akan dapat menerapkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan bagi diri dan lingkungannya. Akhirnya peranan pengambilan keputusan oleh guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran sangatlah sentral. Keputusan yang selalu berpihak pada murid sejalan dengan nilai-nilai kebajikan dan dapat dipertanggungjawabkan di dunia akhirat akan dapat melahirkan generasi emas Indonesia yang memiliki profil pelajar Pancasila.

 

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

 

Pemahaman saya terkait konsep yan telah saya pelajari pada modul 3.1 yaitu :

Dilema etika yaitu situasi dimana kedua pilihan benar situasi / dimana seseorang harus membuat keputusan antara benar dan benar. Sedangkan bujukan moral yaitu situasi dimana seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah.

Terdapat 4 paradiga dilema etika :

1.     Individu lawan kelompok

2.     Rasa keadilan lawan rasa kasihan

3.     Kebenarasan lawan kesetiaan

4.     Jangka pendek lawan jangka panjang

Ada 3 prinsip pengambilan keputusan :

1.     Berpikir berbasis hasil akhir

2.     Berpikir berbasis peraturan

3.     Berpikir berbasis rasa peduli

Ada sembilan langkah pengambilan dan pengujuan keputusan yaitu :

1.     Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.     Menentukan siapa yan terlibat dalam situasi ini

3.     Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan

4.     Pengujian benar atau salah

5.     Pengujian paradigma benar lawan benar

6.     Melakukan prisnsip resolusi

7.     Investigasi opsi trilema

8.     Buat keputusan

9.     Lihat lagi keputusan dan refleksikan

Selebihnya saya tidak menemukan hal-hal yang menurut saya di luar dugaan

 

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkan anda menerapkan Pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilaman pernah, apa bedanya dengan yang anda pelajari di modul ini

 

 Ya, saya pernah mengalami situasi moral dilema yang mengharuskan saya untuk cepat dan tepat dalam membuat keputusan. Namun pada saat itu saya belum mengetahui tentang bagaimana dasar-dasar pengambilan keputusan yang tepat, bagaimaan prinsip pengambilan keputusan, serta langkah-langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan.

 

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

 

Dampak yang sangat bermanfaat yang saya dapatkan setelah mempelajari modul ini. Yaitu sebelum mempelajari modul ini:  dalam membuat keputusan, saya tidak menerapkan 9 langkan pengambilan dan pengujian keputusan. Namun setelah mempelajari modul ini : saya menggunakan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dalam membuat keputusan terhadap masalah/ situasi yang saya hadapi.

 

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

 

Sangatlah penting mempelajari modul ini, baik saya sebagai individu maupun sebagai sebagai pemimpin. Dengan mempelajari modul ini saya memahami bahwa sesulit apapun masalah yang dihadapi, kita harus mampu mengambil keputusan dengan berdasarkan nilai-nilai kebajikan, berpihak pada murid dan bertanggung jawab. Dan berbagai hal/ faktor lain yang dapat membawa keputusan tepat yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman

 

ya , kami bisa menggunakan pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset untuk mengelola sumber daya sekolah. karena dengan mengunakan pendekatan berbasis aset kami akan lebih fokus pada kekuatan aset yang dimiliki sekolah, sehingga pola pikir kami lebih positif dan optimis untuk menuju kesuksesan.

 

  1. sarana da prasarana di sekolah kami cukup memadai, lab komputer dan akses wifi terjangkau sehingga dalam kegiatan pembelajaran berbasis teknilogi sesuai perkembangan jaman. selaian itu pelaksanaan ujian sekolah sudah menggunakan sistem CAT
  2. Sekolah kami memiliki masjid, dengan adanya saran tersebut seluruh kegiatan untuk meingkatkan iman taqwa anak dengan melaksanakan sholat  dhuha, duhur dan sholat jumat berjamaah di masjid sekolah kami.
  3. sekolah kami memiliki guru yang kompeten untuk membimbing siswa yang mengikuti olimpiade, dengan begitu kami mengelola dan memberdayakan guru untuk membimbing siswa peserta olimpiade
  4. sekolah kami memiliki lahan yang luas, kami memanfaatkan lahan tersebut untuk kegiatan p5 dengan menanam dan membuat taman sekolah menjadi asri dan sejuk.
  5. Sekolah kami mempunyai siswa yang multi talent sehingga dapat diasah dan digali diberbagai bidang lomba baik akademik dan non akademik sehingga jargon sekolah kami adalah SMASGA JUARA ( Sekolah menengah atas tenggarang sekolahnya para juara) karena terbukti selalu menang dalam berbagai bidang lomba.

 

 

Jawaban studi kasus 1:

Saya melihat kasus Ibu Lilin yaitu kasus dengan pendekatan berbasis masalah yakni masalah pada penerapan regulasi PPDB zonasi yang berdampak pada karakteristik murid yang heterogen baik dari segi kognitif, afektif dan latar belakang murid . keberagaman ini menjadi pusat masalah bagi bu lilin, sehingga bu lilin saat mengajar lebih kesulitan, emosi dan marah. Namun, di sisi lain, hal ini dapat menghadirkan tantangan baru bagi guru-guru, seperti dalam kasus Ibu Lilin, yang harus mengelola kelas dengan tingkat heterogenitas yang lebih tinggi.

Sebagai Kepala Sekolah, saya akan melakukan beberapa tindakan dalam menghadapi kasus Ibu Lilin, yaitu :

1). memastikan Ibu Lilin mendapatkan bantuan dan dukungan untuk mengatasi tantangan yang dihadapinya dalam mengajar kelas dengan tingkat heterogenitas yang lebih tinggi

2.)  Membangun lingkungan sekolah yang positif melalui pembiasaan-pembiasaan positif yang dilakukan secara ajeg dan terus menerus sehingga akan menciptakan warga sekolah yang berkarakter baik

3)  menindak tegas perilaku bullying atau penghinaan terhadap guru atau murid di sekolah.

Jawaban studi kasus 2:

Menurut Saya, Pak Pupur seharusnya senang dan bangga ketika direkomendasikan kepala sekolahnya mengikuti seleksi calon pengawas sekolah, karena Pak Pupur sudah memenuhi syarat untuk mengikuti seleksi calon pengawas.

Jika saya menjadi Kepala Sekolah, dengan menggunakan pendekatan berbasis aset, dalam hal ini yaitu sekolah memiliki aset guru yang kompeten seperti pak Pupur. Maka yang akan saya lakukan yaitu:

1.    Menyampaikan alasan mengapa saya merekomendasikan beliau untuk menjadi pengawas

2.    Mendengarkan alasan Pak Pupur mengapa beliau bersedih ketika diajukan untuk mengikuti seleksi calon pengawas.

3.    Memberi dukungan penuh dan membantu mempersiapkan referensi yang dibutuhkan, seperti literatur buku yang dibutuhkan dan sebagainya.

4.    Membuka mindset Pak Pupur tentang peluang karir sebagai seorang pengawas sekolah dan memberi penguatan tentang kompetensi yang Pak Pupur miliki